Gerak Cepat Kepedulian UT Palembang Kepada Mahasiswanya


Adinda Dhea Puji Lestari (21), mahasiswa Program Studi Akuntansi semester II UT Palembang, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban aksi begal di kawasan Jalan Musi II, Kecamatan Kertapati, Palembang, Rabu (19/8/2026) dini hari.


Atas kabar tersebut, Direktur UT Palembang Drs. Muhammad Tair A., M.M., mewakili pimpinan dan seluruh civitas akademika UT Palembang menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga almarhumah.


“Kami atas nama pimpinan dan civitas akademika Universitas Terbuka Palembang turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Adinda Dhea Puji Lestari. Semoga almarhumah diampuni segala dosa dan kesalahannya, ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan,” ujar Naim sapaannya.


Kepedulian tersebut diwujudkan dengan kehadiran langsung Direktur UT Palembang beserta jajaran di rumah duka untuk menyampaikan langsung belasungkawa kepada keluarga korban.


Selain menyampaikan duka, UT Palembang juga berharap kasus yang menyebabkan meninggalnya Adinda dapat diusut secara menyeluruh.


Naim mengatakan pihaknya menghormati proses penyelidikan yang sedang dilakukan aparat kepolisian dan berharap siapa pun yang terbukti terlibat dapat diproses sesuai ketentuan hukum.


“Kami berharap dan berdoa agar pelaku segera diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,” tegasnya.


Kedatangan keluarga besar UT Palembang diterima dengan baik oleh keluarga Adinda. Ayah korban, Asiri (63), menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan pihak kampus kepada keluarganya.


“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kepeduliannya. Kami juga memohon maaf jika ada kesalahan atau perilaku anak saya yang kurang berkenan selama bergaul maupun menjadi mahasiswa,” kata Asiri.


Sebelum ditemukan meninggal dunia, Adinda diketahui masih menjalani aktivitas seperti biasa.


Asiri menuturkan, putrinya berangkat bekerja di salah satu gerai ramen di Palembang sekitar pukul 08.00 WIB. Adinda kemudian pulang ke rumah sekitar pukul 18.00 WIB.


Setelah tiba di rumah, korban mandi, memasak dan makan sebelum beristirahat.


Namun, sekitar pukul 20.30 WIB, Adinda kembali mendapat telepon dari tempatnya bekerja. Berdasarkan cerita yang diterima keluarga, korban diminta datang karena terdapat kegiatan pembersihan dan persiapan menyambut kunjungan dari pihak tertentu.


Adinda kemudian kembali ke tempat kerja. Setelah kegiatan selesai, korban disebut pulang sekitar pukul 00.00 WIB tengah malam dan diperkirakan di perjalanan menuju rumah sekitar pukul 01.00 WIB terjadi aksi diduga begal tersebut.


Asiri mengatakan, dirinya memang terbiasa menunggu putrinya pulang setiap kali bekerja. Karena itu, pada malam tersebut ia belum tidur dan masih menantikan kepulangan Adinda.


Sekitar pukul 02.00 WIB, Asiri mencoba menghubungi putrinya. Telepon sempat tersambung, tetapi tidak lama kemudian sambungan tersebut terputus.


Kondisi itu membuat Asiri mulai merasa tidak tenang. Ia kemudian terus menunggu hingga akhirnya sekitar pukul 03.30 WIB sejumlah petugas kepolisian datang ke kediamannya.


Petugas dari kepolisian kemudian memastikan identitas telepon seluler yang dibawa serta menanyakan hubungan Asiri dengan pemiliknya.


“Saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika telepon anak saya tiba-tiba tidak aktif. Tidak lama kemudian petugas datang ke rumah dan meminta saya ikut ke Rumah Sakit Bhayangkara,” ujar Asiri saat menceritakan kejadian tersebut.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Asiri baru mengetahui kabar paling memilukan. Petugas memberitahukan bahwa putrinya telah meninggal dunia.


Asiri mengaku sempat tidak percaya dengan informasi tersebut. Terlebih, selama ini dirinya dan Adinda hanya tinggal berdua di rumah.


Berdasarkan informasi awal yang diterima keluarga, polisi menduga Adinda menjadi korban aksi begal. Aparat kemudian melakukan penyelidikan untuk mengungkap rangkaian kejadian tersebut.


Sekitar pukul 10.00 WIB, keluarga mendapat informasi bahwa polisi telah mengamankan satu orang yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut.


Meski demikian, keluarga korban mengaku belum bertemu langsung dengan orang yang diamankan tersebut. Asiri juga menyebut belum mendapatkan penjelasan secara menyeluruh mengenai motif dan kronologi kejadian dari pihak kepolisian.


Keluarga hanya mengetahui bahwa sepeda motor milik Adinda hilang setelah kejadian. Sementara sejumlah barang lainnya, termasuk tas dan surat kendaraan, disebut masih berada pada keluarga.


Telepon seluler korban juga diketahui ditemukan tidak jauh dari lokasi kejadian.


Dari kondisi jenazah yang dilihat keluarga, terdapat sejumlah luka pada bagian wajah dan kepala hingga sekitar telinga. Bagian tubuh lainnya disebut tidak menunjukkan luka yang berarti.


Kondisi tersebut kemudian memunculkan dugaan dari pihak keluarga bahwa korban kemungkinan mengalami kekerasan sebelum ditemukan. namun penyelidikan aparat kepolisian serta hasil pemeriksaan medis masih menunggu hasil.


Asiri berharap kasus yang menimpa putrinya dapat diusut secara menyeluruh. Ia menyerahkan proses hukum kepada aparat penegak hukum dan meminta siapa pun yang terbukti terlibat diberikan sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan dan dihukum seberat beratnya.


Menurut Asiri, dirinya tidak membutuhkan pertemuan emosional dengan orang yang diduga terlibat dalam kematian putrinya. Baginya, proses hukum yang jelas jauh lebih penting agar perkara tersebut dapat dipertanggungjawabkan.


“Sebagai orang tua, saya hanya berharap proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Kalau memang terbukti bersalah, tentu saya berharap hukum memberikan hukuman yang setimpal,” tegasnya.


Kehilangan Adinda juga menjadi pukulan berlipat bagi Asiri. Pasalnya, ibu korban baru meninggal dunia sekitar empat bulan sebelumnya.


Adinda merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Dua kakaknya telah berkeluarga, sedangkan adik laki-lakinya bekerja di Malaysia. Kondisi tersebut membuat Asiri kini harus menghadapi kehilangan putrinya sekaligus menjalani kehidupan seorang diri di rumah.


Meski terpukul, Asiri berusaha menerima musibah tersebut. Ia menyerahkan seluruh proses kepada Tuhan dan berharap kasus kematian putrinya dapat segera terungkap secara terang.


Ia juga berharap kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat lainnya, khususnya mereka yang harus melakukan perjalanan pulang larut malam setelah bekerja.


Share Artikel ini :